Balikpapan: Meneer Menten & Kota yang Tertukar


Balikpapan, kota kecil di Pulau Kalimantan ini berkembang karena ketidaksengajaan. Kalau bukan karena nekadnya Jacobus Hubertus Menten, Balikpapan tak jadi salah satu kota termodern di Indonesia.

Singapura bisa jadi bukan apa-apa jika Sir Stamford Raffles tak injakkan kakinya di sana. Sebelumnya hanya ada jejak aristokrasi Melayu dan komunitas penjelajah Bugis. Niat Raffles membangun pelabuhan akhirnya membesarkan negara kecil di Selat Malaka ini.

Cerita serupa terjadi di Balikpapan. Hutan tropis di tepi teluk ini hanyalah pos keamanan kecil bagi Kesultanan Kutai. Sama halnya dengan Singapura, sempat tercatat komunitas imigran Bugis bermukim di pesisir Balikpapan.

Sampai suatu ketika, noktah kecil di wilayah Kesultanan ini berubah menjadi penting dalam sejarah dunia. Dear Balikpapaners, begini ceritanya…

Pada Agustus 1860, Departemen Pertambangan Kerajaan Belanda mengirim Jacobus Hubertus Menten ke Kalimantan Timur. Menten, lulusan teknik pertambangan Akademi Delft ini mendapat tugas berburu batubara.
 
Jacobus Hubertus Menten (1833-1920)_J.Ph. Poley_Eroica
Perburuannya pun berhasil. Menten menemukan batubara berkualitas baik di sekitar Delta Mahakam, Kutai dan sekitarnya. Ia pun berhasil menjalin hubungan baik dengan Sultan Kutai. Menten lalu diangkat menjadi manajer perusahaan batubara Kerajaan Belanda pada 1862.

Setelah beberapa penugasan di Bangka dan Bogor, Menten mengundurkan diri dari Departemen Pertambangan pada 1882. Awal Desember di tahun yang sama, ia mendapatkan konsesi tambang batubara dari Sultan Kutai. Pada 1888, Menten menyerahkan konsesi ini kepada Steenkolen Maatschappij Oost Borneo (SMOB).

Pada masa itu Menten sadar potensi minyak di wilayah Kalimantan Timur. Ia sempat mengundang kawannya, Sultan Aji Sulaiman melihat rembesan minyak bumi di wilayahnya. Tak butuh waktu lama, Aji Sulaiman memberi konsesi pada Menten, 29 Agustus 1888.

Menten mendapat konsesi eksploitasi minyak bumi meliputi seluruh wilayah Kutai. Konsesi pertama dinamakan Louise, seperti nama anak perempuan Menten. Sementara Pemerintah Belanda baru menyetujui konsesi Louise pada 30 Juni 1891.
           
Sayangnya Menten tak memiliki modal. Para pemodal di Eropa, termasuk Kerajaan Belanda tak berminat memodali proyek nekad Menten mengeksplorasi minyak di Kalimantan. Untungnya Sultan Kutai memperpanjang izin eksplorasi hingga akhir 1897.

            Beruntung pada September 1895 Menten bertemu Sir Marcus Samuel. dari Shell Transport and Trading Ltd yang bermarkas di London. Sir Marcus siap mempertaruhkan modal demi mencoba peruntungan di Kalimantan Timur.          
 
Sir Marcus Samuel (1853-1927)_J.Ph. Poley, Eroica
Dalam perjalanannya kembali ke Kalimantan, Menten berjumpa Adrian Stoop dari perusahaan SMOB. Stoop bersama SMOB juga mengajukan konsesi minyak bersamaan dengan perizinan Louise. Artinya, SMOB akan menjadi saingan Menten berburu minyak di Kalimantan Timur.

            Pada akhir Desember 1896, SMOB dan Menten memulai perburuan mereka. Dengan masuknya modal Shell, Samuel dan Menten membentuk perusahaan baru guna memenuhi persyaratan peraturan Hindia Belanda. Nederlandsch Indische Industrie en Handel Maatschappij (NIIHM).

Menten memulainya di wilayah konsesi Louise. Wilayah ini berada di rawa-rawa (swamps) Delta Mahakam, dekat Sungai Sanga-sanga (anak Sungai Mahakam). Keadaan alam Kalimantan Timur menjadi kendala.

Mereka harus berhadapan dengan hewan liar, mulai dari babi, orangutan, hingga lintah. Sejumlah pekerja baik dari Jawa maupun Eropa tewas karena penyakit. Belum lagi rumah, jembatan, atau pelabuhan kayu yang mereka bangun cepat sekali membusuk.

            Meski kesulitan terus merundung, Menten berhasil mendapatkan minyak komersil pada kedalaman 150 kaki di Sanga-sanga tepat 5 Februari 1897. Minyak mentah (crude) yang mereka dapat ini memang tidak cocok untuk lampu. Namun, Samuel mengetahuinya sebagai sumber untuk bahan bakar mesin.

            Di waktu yang sama, Menten mencari lokasi yang tepat sebagai tempat pengolahan (refinery) minyak sekaligus pelabuhan. Menten menemukan lahan cocok di Teluk Balikpapan (Bay of Balik Papan). Tanah luas dikelilingi hutan tropis dan vegetasi pesisir, serta laut yang dalam.

            Saat survei, tanpa sengaja, tim Menten melihat rembesan minyak saat di sekitar Tandjung Toekoeng, Balikpapan. Menten segera mengajukan izin konsesi minyak yang kemudian dinamakan Mathilde. Pada musim gugur di tahun yang sama, Menten melaporkannya ke pemerintah Hindia Belanda.

Sumur di sekitar Tandjung Toekoeng itu menghasilkan semburan minyak yang deras pada 15 April 1898 di kedalaman 180 meter. Pencariannya selama belasan tahun akhirnya berbuah manis. Di Balikpapan, Menten tak hanya mendapat pelabuhan, tetapi juga sumber minyak baru.

Di sepanjang 1898, Menten mendatangkan pekerja pengeboran dan pengolahan ke Balikpapan. Kapal uap serta kapal layar pengangkut material dan peralatan pengeboran akhirnya merapat di Balikpapan.

Pada 20 Agustus 1898 untuk pertama kali kapal tanker Shell berlayar mengirimkan minyak mentah dari Kalimantan Timur menuju penyimpanan di Singapura. Disusul pengiriman langsung ke London dengan kapal uap Broadmain.

Ini menjadi terobosan luar biasa dalam perdagangan minyak Asia. Nekadnya Menten ditambah keberanian Samuel berbuah manis hingga kini. Dari Menten yang tak sengaja, Balikpapan menjadi kota luar biasa.

Meski kenyataannya Balikpapan bukanlah kota minyak. Jumlah minyak di Balikpapan ternyata hanya sedikit. Jauh lebih sedikit dibandingkan konsesi Louise di wilayah Kutai yang masih terus berproduksi sampai sekarang.

Sepantasnya daerah yang berkembang adalah di sekitar wilayah operasi minyak seperti bayangan Menten ratusan tahun silam. Namun semesta berkehendak lain. Balikpapan terus berkembang dan lebih dikenal hingga kini.

Nama Menten kini nyaris dilupakan Balikpapaners. Tak seperti Singapura mendirikan patung Sir Raffles yang bernama harum. Nama Menten hanya bersemayam sunyi dalam catatan singkat laman Pemerintah Kota Balikpapan. Laman daring resmi yang tak tahu nama lengkap si Menten.
           
            Wahai Jacobus Hubertus Menten! Barangkali berjumpa dengan Sultan Aji Sulaiman, sahabat Anda. Titip salam dan pesan untuk beliau. Beliau kini abadi menjadi nama bandara kota kami, Balikpapan. Kota temuan Anda yang tak pernah beliau kunjungi.

*Sumber Pustaka
1. Poley, J. Ph., Eroica: The Quest for Oil in Indonesia (1850-1898), (Springer Schience Business Media: 2000).
2. Magenda, Burhan, East Kalimantan: The Decline of Commercial Aristocracy, (New York: Cornell University, 1991).
3. http://menten.org/wiki/index.php5?title=Jacobus_Hubertus_Menten
4. Topografischen dienst, Blad 67/XXII e. dan 67/XXII f, (Batavia: Reproductiebedrijf Topografischen dienst, 1932), dalam Arsip Kartografi ANRI Kalimantan No. 2500 dan 2501.
5. Koniklijke Nederlandsche Maatschappij Tot Exploitatie van Petroleumbronnen in Nederlandsch IndiĆ«: Verslag over 1911. (S’Gravenhage: 1912).