Misi Nekad a la Pearl Harbour di Balikpapan




Kota Balikpapan pernah menjadi saksi serangan udara heroik nan dahsyat. Layaknya kisah Doolittle raid di film Pearl Harbour. Saat 16 bomber B-25 pimpinan Letkol Doolittle menyerang Jepang dalam misi yang nyaris tak masuk akal.

Setiap Desember Amerika Serikat (AS) baru memperingati serangan Pearl Harbour. Sebagai balasan atas serangan Jepang, AS menggelar misi heroik pada 18 April 1942. Serangan udara yang dipimpin pilot legendaris James Doolittle.

Bomber B-25 yang digunakan Doolittle dan pasukannya harus menempuh jarak 2.400 mil laut. Padahal daya jelajah normal hanya 1.300 mil laut. Belum lagi tak satupun dari pilot B-25, termasuk Doolittle pernah lepas landas dari atas sebuah kapal angkut.

Sejumlah modifikasi dilakukan atas B-25. Seperti mengurangi senjata dan membuang perangkat radio. Yang paling menegangkan, mereka harus terbang menembus pertahanan Jepang tanpa didampingi pesawat tempur.

Tiga pilot dinyatakan tewas, sementara delapan lainnya tertawan Jepang. Meski hanya merusak sejumlah target, serangan Doolittle berhasil memompa semangat prajurit AS saat itu.

Sementara itu, Balikpapan menjadi salah satu kunci kekuatan militer Jepang di Perang Dunia (PD) II. Sekutu mengklaim 35 persen bahan bakar militer Jepang dipasok dari pengolahan minyak di Balikpapan.

Sekutu berulang kali melakukan serangan udara demi merusak pengolahan minyak dan pangkalan udara di Balikpapan. Yang pertama terjadi pada 14 Agustus 1943. Grup 380th  Bomber pimpinan Letkol William Miller mengirimkan 12 pesawat B-24s.

Jurnalis James Frisbee menyejajarkan Balikpapan dengan Ploesti, pengolahan minyak utama Jerman di Rumania. Misi ini pun disejajarkan dengan Operasi Gelombang Pasang yang menghancurkan pengolahan minyak Ploesti 1 Agustus 1943.

Grup 380th menempuh jarak 2.700 mil selama 17 jam Darwin-Balikpapan-Darwin. Inilah misi terjauh yang pernah dilakukan di barat daya Pasifik pada saat itu. Akibat cuaca dan kerusakan mekanik, hanya sembilan pesawat yang mencapai Balikpapan.

Hari berikutnya dua B-24 tiba di Balikpapan untuk memotret kerusakan. Serangan dilanjutkan 9 unit B-24 (dari 11 unit yang diberangkatkan) pada 17 Agustus 1943. Grup 380th berhasil menghentikan operasi pengolahan minyak untuk sementara.

Mereka juga menghancurkan sejumlah kilang dan menenggelamkan 30.000 ton bahan bakar yang siap dikapalkan. Jepang pun harus mendatangkan bantuan dari New Guinea demi memperkuat pertahanan di Balikpapan.

Setahun kemudian pemimpin AU untuk Timur Jauh, Letjen George Kenney menyiapkan pesawat B-29 yang berdaya jelajah lebih jauh. Namun atasan Kenney, Jenderal Henry Arnold menolak karena B-29 disiapkan untuk menyerang Jepang.

Kenney harus kembali mengandalkan B-24 menyerang Balikpapan. Beruntung Sekutu berhasil merebut Pulau Numfor, Papua pada September 1944. Sayangnya jarak Numfor-Balikpapan-Numfor yang mencapai 2.610 mil masih di luar jangkauan B-24.

Hanya dalam dua minggu Grup bomber 307th, 5th, dan 90th harus memodifikasi beban pesawat sekaligus ujicoba. Pada 30 September 1944 dini hari, 64 unit B-24 mengudara dari landasan pacu gelap, pendek, dan tak beraspal.  

Misi ini tiga kali lebih jauh daripada jarak Inggris-Jerman. Jarak ekstrem juga berarti mereka terbang tanpa kawalan pesawat tempur. Mereka terbang menghindari pangkalan militer Jepang sambil berharap tak dicegat pesawat tempur lawan.

Sesuai catatan harian Kapten James Hobstetter, serangan hari itu dilakukan empat skadron udara dalam dua gelombang. Pagi menjelang siang itu, awan pekat menutupi langit Balikpapan.

Sementara radar di pesawat komandan grup, Kolonel Thomas Musgrave rusak. Selama 45 menit mereka berputar di atas Balikpapan. Berharap radar kembali berfungsi atau awan tertiup angin.

Kedatangan mereka terlihat dua pesawat Jepang. B-24 jelas tak bisa berbuat apa-apa tanpa kawalan pesawat tempur. Musgrave dan pasukan hanya melawan seadanya sambil nekad menjatuhkan bom ke Balikpapan.
Foto Udara pemboman Balikpapan 1944 silam_AIRWAR WORLDWAR2.COM

Serangan hari itu merusak unit pengolahan Pandan Sari serta membakar habis sebuah kapal tanker. Hampir seluruh pesawat berhasil kabur dari serangan pesawat Jepang. Satu pesawat terpaksa mendarat di Morotai yang baru saja direbut Sekutu.

Tiga hari berikutnya, 40 unit B-24 kembali membom di Balikpapan. Kali ini merusak pengolahan pelumas, dan menghancurkan sejumlah kilang minyak. Masih ada tiga serangan udara yang dilakukan Sekutu pada 10, 14, dan 18 Oktober 1944.

Namun dua serangan terakhir tak lagi sedramatis sebelumnya. Bomber-bomber sekutu dikawal pesawat tempur mereka. Rangkaian serangan ini menghentikan dua unit pengolahan dan pabrik paraffin selama enam bulan. Turut hancur pula instalasi produksi minyak diesel, dan pelumas.

Balikpapan pernah menjadi saksi salah satu serangan udara terdahsyat dalam sejarah Perang Pasifik. Namun lagi-lagi kisah ini tak muncul dalam sejarah arus utama. Orang Balikpapan pun tak pernah mendengar cerita ini dari kakek nenek dulu. 

Konon, Sekutu memang hanya berniat menyerang instalasi minyak atau infrastruktur transportasi Jepang. Sehingga tak ada kerusakan selain target militer. Selain menghindari collateral damage, Sekutu tak ingin menyia-nyiakan amunisi dan tenaga.
Asap membumbung tinggi di kompleks pengolahan minyak Balikpapan, 1944 silam_CAPT PETE HOBSTETTER
Menurut Frisbee, cerita di Balikpapan selalu kalah populer dengan berita pertempuran sekutu di Eropa. Padahal Balikpapan punya cerita perang yang tak kalah dramatis. Berharap kelak cerita-cerita Balikpapan difilmkan layaknya Pearl Harbour.